Aturan Penulisan tata nama Binomial | Binomial Nomenclature

November 1st, 2012 0 Comments

Aturan penulisan tata nama Binomial Nomenklatur. Cara penamaan makhluk hidup menggunakan tata nama biner atau tatanama ganda dalam sistem klasifikasi binomial memiliki aturan penulisan yang harus di penuhi. Aturan penulisan tata nama binomial nomenclature di ciptakan dengan satu tujuan yaitu unuk menyeragamkan kaidah pemberian nama makhluk hidup yang baku yang tidak akan menyebabkan salah pengertian dan bisa di terima di seluruh pelosok dunia. 

Pemberian nama makhluk hidup memiliki aturan-aturan tersendiri, baik makhluk hidup yang berupa tumbuhan, ataupun hewan. Saat ini penamaan berbagai jenis tumbuhan termasuk alga, fungi, lumut kerak dan fosil tumbuhan diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata Nama Botani (ICBN). Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN) diperuntukan bagi hewan dan fosil hewan. Sedangkan untuk penamaan makhluk hidup Prokariota diatur dalam  Peraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Untuk tanaman yang dibudidayakan juga ada aturan tersendiri yang tercantum dalam  Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya (ICNCP). Dari semua perbedaan aturan tersebut setidaknya ada satu yang sama yaitu kesemua sistem penamaan makhluk hidup diatas menggunakan kaidah tata nama binomial nomenclature. Berikut ini adalah aturan penulisan tata nama binomial nomenklatur yang harus di penuhi saat memberikan atau menuliskan nama makhluk hidup berdasarkan sistem klasifikasi binomial Carrolus Linnaeus.

Aturan Penulisan Tata Nama Binomial Nomenclature

1.  Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama genus di awal dan nama spesies mengikutinya.

2. Nama genus selalu diawali dengan huruf kapital atau huruf besar,  dan nama spesies selalu menggunakan huruf kecil.

3. Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:

  • Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine soja, Pavo muticus, Oryza sativa, Zea mays, dll
  • Apabila nama jenis tersebut untuk mengenang jasa orang yang menemukannya maka nama penemu dapat dicantumkan pada kata kedua dengan menambah huruf (i) di belakangnya. Contohnya: tanaman pinus yang ditemukan oleh Merkus, nama tanaman tersebut menjadi Pinus merkusii atau Pinus Merkusii
  • Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus dan nama spesies.

4. Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari autoritas boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku sekarang, nama autoritas ditulis dalam tanda kurung.

Contoh: Glycine max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978), dll.

5. Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.

Contoh:  pada judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN KEDELAI (Glycine max Merr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS".

6. Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap.

Contoh: Di Bengkulu ada tumbuhan dengan bunga terbesar yang dikenal sebagai Rafflesia arnoldii. Di Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang lebih kecil.

7. Penggunaan singkatan dibelakang nama  genus memiliki aturan sebagai berikut

  • Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan.
  • Singkatan "spp." (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp., berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis Adiantum.
  • Singkatan "ssp." (zoologi) atau "subsp." (botani) digunakan untuk menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk jamaknya "sspp." atau "subspp."
  • Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti. Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini".

8. Apabila nama spesies tumbuhan terdiri lebih dari dua kata maka kata kedua dan seterusnya harus disatukan atau ditulis dengan tanda penghubung kecuali jika nama tersembut menunjukan jenis varietas maka harus di tulis secara terpisah dengan tetap menggunakan hurup kecil pada kata kedua dan seterusnya.

Contoh nama spesies yang terdiri dari 3 kata

  • Tanaman bunga sepatu, nama ilmiahnya Hibiscus rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
  • Tanaman bunga sepatu varietas putih nama ilmiahnya Hibiscus sabdarifa varalba atau Hibiscus sabdarifa varalba
  • Hewan Kucing varitas jinak memiliki nama ilmiah Felis manuculata domestica atau Felis manuculata domestica
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)

Comments are closed.

Categories
Please Like yooo…