Hormon Sitokinin dan Fungsinya. Hormon sitokinin adalah zat pengatur tumbuh yang berperan dalam proses pembelahan sel (sitokinesis) di jaringan meristematis. Hormon sitokinin dibentuk pada bagian akar dan ditransportasikan ke seluruh bagian sel tanaman. Senyawa sitokinin pertaman kali di temukan pada tanaman tembakau dan disebut dengan istilah kinetin. Sedangkan senyawa sitokinin pada tanaman jagung di sebut zeatin.

Sitokinin di temukan dalam 2 tipe, yaitu sitokinin tipe adenin dan sitokinin tipe fenilurea. Sitokinin tipe adenin di bagian perakaran, jaringan kambium dan bagian-bagian sel yang masih aktif. Contoh sitokinin tipe adenin adalah kinetin, zeatin dan BA. Sedangkan sitokinin tipe fenilurea tidak di bentuk oleh tumbuhan, tpi merupakan hasil buatan manusia. Contoh sitokinin feniurea adalah DPU, CPPU, dan TDZ.

Baca Juga:

Fungsi Hormon sitokinin

Sitokinin mempunyai fungsi yang sangat penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Fungsi sitokinin antara lain adalah:

  • Mengatur pertumbuhan dan diferensiasi sel,
  • Merangsang pembentukan akar dan batang serta percabangannya
  • Mengatur pertumbuhan daun dan pucuk
  • Merangsang pembelahan sel
  • Merangsang pembentukan tunas
  • Memperbesar daun muda
  • Mengatur pembentukan bunga dan buah
  • menghambat efek dominasi apikal oleh auksin pada batang
  • Menghambat proses penuaan dengan cara merangasang proses serta transportasi garam-garam mineral dan asam amino ke daun.
  • Sitokinin diperlukan bagi pembentukan organel-organel semacam kloroplas dan mungkin berperan dalam perbungaan
  • Merangsang sintesis protein dan RNA untuk mensintesis substansi lain

Peran sitokinin pertama kali ditemukan oleh Folke Skoog dalam percobaannya pada tahun 1940-an sewaktu ia bekerja di Universitas Wisconsin, Madison. Sitokinin dapat bekerja lokal ataupun jarak jauh. Biasanya, sitokinin ditransportasi lewat pembuluh kayu. Dalam menjalankan fungsi fisiologinya, sitokinin kerap kali bekerja bersama-sama dengan auksin walaupun terkadang keberadaan sitokinin dapat menghambat dominasi apikal akibat dari aktivitas hormon auksin.