Sinopsis Jodha Akbar episode 232 by Jonathan Bay. Maham menuju tempat rahasianya. Sepanjang perjalanan kata-kata Jiji Anga terngiang di telinganya.  Tapi sepertinya, apapun yang di katakan Jiji anga tidak menyentuh hati Maham. Maham memasuki lorong rahasianya. Di depan pintu dua prajurit Mughal berjaga. Maham menyerahkan obor pada salah satu prajurit itu dan memberikan salnya pada prajurit lain. Pada salah satu prajurit Maham memberitahu, “selain diriku, orang lain juga mengetahui tentang tempat ini. Mereka meragukan aku, dan dapat datang kesini kapan saja. Jaga jarak dengan mereka dan jangan katakan apapun yang terjadi di sini.” Kedua prajurit mengangguk. Maham kemudian masuk kedalam.

Melihat  gedongan bayi tergeletak di lantai, Maham mengambilnya dan menggendongnya laksana menggendong bayi dan berkata, “aku sudah menunggu begitu lama, dirimu untuk berbicara. Dan kau sudah cukup menguji kesabaranku. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. ~lalu sambil berteriak histeris, maham memegang sosok bayi itu pada kedua kakinya dan berteriak~ Aku telah kehilangan segalanya. Tapi aku masih memiliki alat untuk memenangkannya kembali. Kaulah alat itu! Benar! Kaulah satu-satunya yang bisa aku gunakan untuk mencapai tujuanku. Jika kau masih tidak bicara, jika kau masih tidak membagi rahasia itu denganku, aku pasti akan membunuhmu! Kau harus mati bersamaku!” Selama maham berteriak, terdengar suara seseroang yang mengerang ketakutan. Dan pada orang itulah, sepertinya maham berbicara dan membelalak marah.

Di Amer, semua anggota keluarga sedang berkumpul. Khangar Singh sedang menyampaikan informasi tentang Sujamal yang di bawah oleh mata-matanya. Khangar singh berkata, “mata-mata kita mengkonfirmasi kalau Sujamal telah bergabung dengan para raja dan tuan tanah yang menantang kita dan kerajaan Mughal.” Jodha dan Bharmal mendengarkan info itu dengan raut wajah murung. Jaganath menimpali, “dia menyerang Mewat. Kemudian dia pergi ke Agra dan memasuki Harem dengan menyamar sebagai kasim. Dia telah menyebabkan perpecahan antara Jodha dan Jalal.” Bahrmal dengan tegang berkata, “dia menyebabkan begitu banyak masalah. Pertama dia memberontak terhadap tanah kelahirannya, kemudian dia menghancurkan hidup adiknya. Dia dan Shivani telah berbuat hal yang memalukan bagi kita.” Menawati dengan sedih berkata pada Bharmal, “kenapa kau memikirkan dia yang tidak bisa kau kendalikan?” Bharmal menyahut, “bagaimana tidak, Mainawati?  Aku mungkin telah memutuskan semua hubungan dengan Shivani, tapi orang-orang masih mengenalnya sebagai putriku. Dia menghancurkan hidupnya sendiri dan reputasi amer. Bagaimana mungkin dia bisa menjalin hubungan dengan seorang seniman miskin? Dia seharusnya membicarakan itu dengan seseorang. Jika tidak denganku, dia bisa bicara dengan kakaknya, Jodha.” Semua menatap Jodha. Jodha berdiri mendekati Bharmal.

Jodha berkata, “ayah, cobalah melihat permasalahan ini dari sudut pandang Shivani. Dia meninggalkan kita semua. Dia tidak memperdulikan kemewahan. Dia juga menolak menikahi adik kaisar dan memilih menikah dengan seniman miskin seperti Tejwant. Dia bisa melakukan ini semua karena cintanya. ~Dadisa mengangguk setuju, bharmal masih tidak bisa menerima~ Mungkin dia tidak mempertimbangkan kekayaan, kemewahan dan bahkan kemuliaan diatas rasa cintanya.” Bharmal dengan tegas berkata, “cinta hanyalah sebuah mimpi dan kehidupan adalah kenyataan. Demi cinta yang sesaat, bagaimana bisa seseroang menghancurkan hidupnya dan juga hidup dari keluarganya? Mengapa Shivani tidak berpikir sebelum melakukan tindakan yang begitu dramatis?” Jodha menyahut, “kau benar. Tapi Shivani juga tidak salah. Dia mungkin berpikir bahwa tidak ada orang yang mau mengerti dia dan perasaannya. Jadi, dia mengambil langkah yang begitu dratis. Mungkin, sujamal juga benar. Dia memiliki pemikiran yang berbeda. Dia memberontak karena dia pikir bahwa dia benar.” Bharmal menyela, “apakah benar pegi ke istana adik iparnya dengan menyamar sebagai seorang kasim? Sehingg amenciptakan kesalah pahaman antara kau dan yang mulia.”

Baca Juga:

Sinopsis Jodha Akbar episode 232. Jodha mencoba memberi pengertian pada Bharmal, “ayah, terkadang kita memiliki tujuan yang lebih besar tapi takdir tidak mendukungmu. Aku tahu bahwa Sujamal datang ke Agra untuk memenuhi tugasnya. Dia telah berjanji padaku, bahwa dia tidak akan membiarkan bahaya apapun yang akan terjadi pada suamiku, apapun resikonya. Ketika dia mengetahui beberapa orang kepercayaan kaisar melakukan konspirasi untuk menentangnya, dia datang ke Harem. Tapi Yang Mulia menyatakan dia sebagai musuh. Jadi dia harus melakukan penyamaran. Itulah yang membuat aku dan yang mulia bertengkar. Tapi kita tidak bisa menyalahkan Shivani dan Sujamal karena takdir kita. Aku tahu, ayah. Tidak peduli bagaimana kau menyembunyikannya, tapi kau memiliki hati yang lembut untuk Shivani dan Sujamal. Itulah sebabnya kau sedih. Kau masih ingin melihat mereka bahagia.” Barmal terdiam, dia memikirkan dan meresapi kata-kata Jodha.

DI istana Agra, prajurit Mughal berhasil menangkap Shivani dan Tej. Dengan tangan dan leher terbelengu, Tej dan Shivani di bawa menghadap ke ruang sidang. Di halaman istana, Moti berpasan dengan mereka. Moti terlihat panik dan cemas, “oh dewi Amba! Apa ini?” Moti berpikir, “puteri Shivani dan Tejwant di tangkap. Oh Dewi Amba! Jodha tidak ada di sini. Siapa yang akan menyelamatkan mereka? Yang mulia telah menjadi begitu marah.” Moti bergegas menghampiri Shivani dan memanggilnya, “putri Shivani!” Shivani menyahut, “Moti Bai!” Moti meminta izin pada prajurit untuk berbicara pada Shivani. Tapi prajurit melarangnya, karena itu perintah, “mereka adalah pengkhianat. Kami harus membawa mereka ke hadapan Yang Mulia.” Moti terlihat purus asa, “Yang mulia?! Dia bahkan tidak mengampuni Maham Anga. Kira-kira hukuman apa yang akan di jatuhkannya pada mereka? Oh dewi Amba, tolong lindungi mereka!”

Maham angga sedang duduk sambil mengelar peta di meja. Dia bicara sendiri, “ini mungkin akan memberikan aku petunjuk.” Ruq mendatanginya sambil berteriak-teriak memanggil Maham. Mendengar suara Ruq, Maham dengan cepat melipat peta di depannya dan segera menyembunyikannya di bawah taplak meja. Ruq melihat Maham dan langsung marah-marah di depannya, “dasar wanita tidak tahu diri! Beraninya kau…membuatku menjadi bagian dari rencana menjijikan ini? Bagaimana kau bisa menjadi begitu rendah?” Mendengar kata Ruq, Maham dengan wajah kesal menghapirinya, “bagus, Ratu Ruqaiya! Terima kasih banyak untuk pujianmu! Tapi demi Jalal, bukankah kau juga terlibat di dalamnya?” Ruq menjawab dengan marah kalau dia memang menginginkan jalal. Tapi dia tidak menyangkan kalau Maham akan mengkhinanati Jalal, “..kau memakai pakaian putih dan terlihat suci, tapi tidak kusangka kau melakukan perbuatan rendah seperti itu. Kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya padaku? Kenapa kau membohongiku? Kau tahu kalau lelaki Rajvanshi itu tak lain adalah Sujamal. Mengapa kau berbohong padaku?”

Maham mengoyangkan telunjuknya di depan Ruq dan berkata, “tidak..tidak.. Ratu Ruqaiya! Aku tidak membohongimu. Aku memang tidak memberitahu semuanya padamu, dan hanya memberitahumu apa yang harus kau ketahui. Aku tidak melakukan kesalahan. Aku melakukan apa yang kau inginkan. Aku mencoba menciptakan jarak antara Jalal dan Ratu Jodha. Kau juga menginginkan hal yang sama, kan?” Ruq menyahut, “ya. Tapi aku tidak ingin memainkan tipuan murahan seperti itu. Kau tahu, Maham anga. Banyak perbedaan antara kau dan aku. Aku masih setia kepada kerajaan Mughal dan Jalal. Aku memiliki darah biru mengalir di nadiku. Aku tidak akan menjadi rendah sepertimu. Aku tidak akan pernah menyebarkan rumor mengenai perselingkunan antara Ratu Jodha dengan kakaknya. Cih..!” Maham mengatakan kalau dia melakukan semua itu demi kebaikan mereka berdua, karena itu menguntungkan dia, Ruq dan Jalal. Ruq dengan cepat menyela, “tidak Maham Anga. Kau salah. Kau ingin membalas dendam. kau melakukannya karena kau ingin menjadi lebih hebat di banding yang lainya. Mengapa kau melakukan itu, Maham anga? Mengapa kau melakukan semua ini? Ratu Jodha merupakan ancaman bagiku dan posisiku, tapi kau…apa yang bisa di ambil Ratu Jodha darimu?” Maham meninggikan suaranya, “kau memiliki ketakutan yang sama denganku. Tidak satupun dari kita yang ingin kehilangan Jalal.” Ruq berkata kalau tidak ada yang bisa memisahkan Jalal dan dirinya, “aku adalah kepala permaisurinya dan aku akan tetap begitu. Aku tidak perlu melakukan konspirasi atau mengkhianati dia untuk itu.” Maham sambil tertawa licik memuji Ruq, “apa yang kau katakan? Hebat! Jalal menuduhku mengkhianati dia, dan kau bertingkah seolah-olah tidak bersalah. Kau memanfaatkan aku di saat kau membutuhkan aku. Dan sekarang kau menuduhku? Siapa pengkhianatnya? Aku. Siapa yang berkonspirasi? Aku. Siapa yang berbuat kejahatan? Aku. Siapa yang mengkhianati jalal? Aku. lalu bagaimana denganmu? kautidak melakukan apapun, benarkan, Ratu Ruqaiya? Mungkin aku yang telah melakukan kejahatan itu. Tapi kau juga ingin Jodha pergi dari hidup Jalal. Kau juga berbuat melawan dia hanya saja cara kita berbeda. Karena Jalal telah mencoba membuangku, kau juga mencoba untuk mengacuhkan aku!”

Ruq mengangkat tanganya di depan Maham dan berkata, “cukup! Aku tidak ingin mendengar omong kosong ini lagi.” Ruq hendak beranjak pergi, tapi maham dengan lantang berkata, “dengarkan aku, atau kau akan menyesalinya. Kau pasti pernah mendengar pepatah, ketika sebuah kapal mulai tenggelam, tikuslah yang pertama kali meninggalkannya. Tapi tikus yang malang itu tidak tahu bahwa mereka akan jatuh ke dalam laut juga. Aku setuju bahwa Jalal membuangku. Tapi sebenarnya Jalal juga tidak dekat denganmu. Alasannya adalah, karena dia sekarang begitu dekat dengan Ratu jodha. Kau mengetahui itu, benarkan? Tapi yang menyedihkan, kau tidak siap untuk menerimanya.” Mendengar itu semua, dengan marah Ruq meninggalkan Maham anga.

Sinopsis Jodha Akbar episode 232. Di ruang sidang, Shivani dan Tej akan di adili. Para hadirin sudah siap, tinggal menunggu jalal yang belum datang. Para Ratu terlihat prihatin pada Tej dan Shivani, memikirkan hukuman apa  yang akan di berikan Jalal. Ratu Ruksar berkata, “aku penasaran apa hukuman dari yang mulia.” Lawan bicaranya menyahut, “mereka telah memberi rasa malu pada kerajaan Mughal. yang Mulia mungkin akan memerintahkan untuk membunuh mereka.” Tej dan Shivani saling berpandangan. Mirza menatap keduanya dengan cemas. Jiji anga berkata, “aku kasihan pada mereka. Mereka tertangkap di saat yang tidak tepat. Yang mulia sedang gusar saat ini. Aku penasaran hukuman apa yang akan mereka terima.” Salima menyela, “maaf, Jiji anga. Aku rasa Yang Mulia sekarang mengerti apa arti cinta. Aku rasa dia akan mengerti bagaimana tidak berdayanya mereka.” Jiji menyahut, “aku rasa kau berharap terlalu besar, Ratu Salima. Hatinya sedang terluka saat ini. Dan orang yang sedang terluka, hanya bisa memikirkan untuk membalas dendam.” Salima dengan filosfis berkata, “beberapa rasa sakit mengubahmu selamanya, Jiji anga.” Gulbadan mengangguk setuju dengan Salima.

Terdengar pengumuman kalau Jalal datang. Semua berdiri dan memberi salam. Jalal tanpa menoleh langsung menuju tahtanya, duduk dan membalas salam mereka semua. Setelah suasana agak tenang, Atgah berdiri dan bertanya, “apa aku memiliki izin untuk memulai prosedur ini, Yang Mulia?” Jalal menjawab, “tentu.” Atgah mengatakan, “Yang Mulia, buronan pegkhianat dari kerajaan Mughal, puteri Amer, Shivani dan Tejwant telah di bawa kehadapanmu. Pernikahan Shivani telah di atur dengan Mirza Hakim. Dia telah memberikan persetujuannya untuk pernikahan itu. Tapi mereka berdua melarikan diri dihari pernikahan.” Jalal menatap Shivani dengan pandangan yang sulit di artikan, antara sedih dan bimbang. Shivani terlihat cemas. Tapi Tejwant terlihat tenang dan pasrah. Atgah melanjutkan, “mereka telah membuat malu kerajaan Mughal. Kita tidak memerlukan saksi untuk membuktikan kejahatan mereka. Semua kepala petugas kerajaan telah menyaksikannya. Tejwant di tangkap di pasar Mathura dan Shivani menyerahkan dirinya sendiri.” Ulama menimpali ucapan Atgah, “Yang Mulia, Tejwant dan Shivani tidak hanya telah mengkhianati kerajaan, tapi menurut hukum agama, ini adalah dosa yang sangat fatal. Mereka pantas untuk mendapatkan hukuman yang berat.” Jalal mengangkat tangannya. Lalu pada Tejwan dia bertanya, “apa kau ingin mengutarakan pembelaan diri, Tejwant?” Tejwant dengan tenang berkata, “aku tidak memiliki pembelaan diri, Yang Mulia. Karena menurutku aku tidak melakukan kejahatan apapun. Kami saling mencintai sebelum Shivani datang ke Agra dan pernikahannya dengan Mirza Hakim di atur. Kami bersumpah untuk menghabiskan sisa hidup kami bersama. Mencintai seseorang  bukanlah kajahatan. Bahkan sebenarnya, kami menyelamatkan 3 kehidupan dari kehancuran.” Jalal bertanya, “kalau kalian saling mencinta, mengapa kalian melarikan diri?” Tejwant menjawab, “jika kami mengatakan yang sebenarnya, apakah ada orang yang akan membiarkan kami menikah? Di satu sisi adalah kau, dan di sisi lain, Raja Bharmal. Cinta kami tidak memiliki kesempatan di hadapan kekuatan kalian.”

Jalal bertanya, “ada yang lain lagi?” Tejwant dengan pasarah berkata, “jika menurutmu jatuh cinta adalah sebuah kejahatan, maka kau boleh menghukum kami.” Jalal lalu berpaling pada Shivani dan bertanya apakah dia ingin mengutarakan pembelaan diri? Shivani menjawab, “ya, Yang Mulia. Pertama-tama, aku ingin meminta maaf padamu. Aku membuatmu dan ayahku menjadi malu. Tapi satu-satunya kejahatanku adalah bahwa aku mengikuti kata hatiku. Jika aku menikah dengan Mirza Hakim, Aku akan bertindak tidak adil kepadanya. Aku tidak akan pernah bisa mencintai orang lain selain Tejwant. Mencintai orang lain selain suamimu dan tidak bisa mencintai suamimu akan menjadi kejahatan yang paling besar. AKu tidak ingin melakukan hal itu. Jadi aku harus melarikan diri.”

Di tempatnya duduk, Ruq berbisik pada hamida, “ibu, aku sangat khawatir bahwa Jalal akan kehilangan kendali. Dan Ratu Jodha tidak ada di sini untuk melindungi adiknya.” Hamida tersenyum dan menyahut, “aku yakin sepenuhnya, jalal akan mengambil keputusan yang benar.”

Sinopsis Jodha Akbar episode 232. Setelah selesai mendengar pembelaan Shivani, Jalal berkata pada Atgah, “atgah Shahab, kau menganggap mereka bersalah dan mereka mengatakan kalau mereka saling mencinta. Kalau begitu apa kejahatan mereka?” Atgah berkata, “Yang Mulia, aku tidak mengerti. kau yang menyatakan mereka sebagai kriminal dan memerintahkan untuk menangkap mereka.” Jalal menyahut, “benar, aku memang memerintahkan demikian. Pernikahan adikku batal dan dia sedih. Karena itu aku memerintahkan agar menangkap mereka berdua. Tapi malam itu, adikku menjelaskan sesuatu kepadaku, ~Jalal teringat kata-kata Mirza Hakim saat dia mengatakan kalau cinta tidak pernah melukai seseroang..~ kemudian aku menyadari kesucian dari cinta. Kita tidak bisa melihat orang yang kita cintai terluka, Atgah Shahab. Bagaimana seseorang bisa menjadi begitu suci dan penjahat di saat bersamaan? Jika jatuh cinta adalah sebuah kejahatan, Mirza juga merupakan seorang penjahat karena telah mencintai Shivani. Ibuku adalah seorang penjahat karena dia mencintaiku dan ayahku. Bahkan semua orang yang hadir di sini adalah seorang penjahat. Karena mereka semua mencintai seseorang atau sebaliknya. Berapa banyak orang yang harus aku hukum? Atgah Shahab, Cinta adalah diatas kepercayaan, komunitas dan kasta. Aku hanya mengikuti satu prinsip. Itu adalah cinta. Dan mereka yang berhenti mencintai orang lain adalah penjahat. Dan aku tidak bisa melakukan kejahatan yang begitu mengerikan atas nama kadilan.” Adham mencibir, Maham terpaku.

Pada Tej dan Shivani Jalal berkata, “kalian telah menjadi begitu pemberani. Kalian menyatakan cinta kalian masing-masing di hadapan orang banyak. Bahkan seorang Raja malu untuk menyatakan hubungannya di hadapan rakyatnya. ~jalal menoleh pad Atgah~ Atgah lhan, lihatlah puteri Shivani. Aku yakin raja Bharmal telah menyediakan kemewahan dari seluruh dunia ini untuknya. Tapi dia menolak semua kemewahan itu, masa depan cerah ataupun barang berharga yang bisa dia dapatkan. Untuk hidup bersama selamanya dengan seorang pemahat. Yang dia inginkan hanyalah cinta. Tidakkah ini membuktikan betapa berharganya sebuah cinta? Tidak mungkin itu berubah menjadi kejahatan. Untuk memenangkan cinta seseorang yang suci dan tidak ternilai. Jadi, aku Jalaluddin Muhammad membersihkan mereka dari semua tuduhan terhadap mereka. Aku tidak akan menghukum mereka.” Tej dan Shivani saling pandang dengan bahagia. Hamida tersenyum gembira. Dan Ruq terpana tak percaya. Maham geram dan marah. Salima tersenyum senang. Para ulama saling berbisik.

Jalal berdiri, ~semua orang ikut berdiri~ menghampiri Shivani dan tej, “kalian telah di bebaskan.” Dengan gembira Shivani berlutur di depan jalal sambil berkata, “kau memiliki hati emas, Yang Mulia.” Jalal dengan sedih berguman “hati?” Shivani tersneyum dan mengangguk. Jalal mengulurkan tangannya membantu Shivani untuk berdiri, “jika kau berlutut di kakiku, itu akan menjadi sebuah penghinaan bagi istriku.” Shivani berkata, “Yang Mulia, aku sangat senang, karena kau mengerti tentang perasaan cinta dan menyadari kekuatannya.” Tanpa menyahut Jalal membalikan badan dan duduk kembali di tahtanya. Dengan sedih dia berpikir, “aku berhrap aku menyadari perasaan seperti ini lebih awal, maka aku tidak akan kehilangan.”

Setelah selesai berpikir, Jalal menatap sekeliling dan sambil tersenyum sedih dia berkata, “Tejwant, aku mendengar bahwa kau adalah seorang pemahat yang luar biasa. Jadi aku ada sebuah pekerjaan untukmu.” Jalal menoleh pada atgah dan berkata, “atgah khan, Tejwant akan menjadi pemimpin dari pemahat istana mulai sekarang.” Shivani sangat senang, dia melipat tanganya di dada dan berucap, “Yang Mulia, aku tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan rasa terima kasihku atas kebaikanmu. Semoga dewa memberkatimu dengan apapun yang kau inginkan. Semoga kau di berkati dengan segala kebahagiaan di dunia ini.” Dalam hati Jalal menyahut, “orang yang bisa membuatku bahagia pergi menjauh dariku, Shivani. Ratu Jodha ku.” Sinopsis Jodha Akbar episode 233

Baca Sinopsis Jodha Akbar