Macam-macam Teori Kependudukan. Teori kependudukan adalah teori yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan penduduk. Penduduk adalah seluruh manusia yang tinggal di suatu wilayah negara baik yang merupakan warga negara tersebut ataupun orang asing yang bertempat tinggal disana. Sedangkan kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan, kehamilan, kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta ketahanannya yang menyangkut ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Macam-macam Teori Kependudukan

Teori kependudukan banyak macamnya dan di cetuskan oleh beberapa orang berbeda. Namun ada juga teori yang merupakan pengembangan dari teori yang sudah sebelumnya. Teori kependudukan telah muncul sejak abad 17, namun hanya beberapa saja yang dianggap relevan dan mempunyai pengaruh dalam ilmu kependudukan (demografi), diantaranya adalah:

1. Teori Kependudukan Malthusian (Thomas Robert Malthus)
Teori Malthusian adalah teori kependudukan yang di cetuskan oleh Thomas Robert Malthus, seorang pendeta yang hidup antara tahun 1776 – 1824. Dalam bukunya yang berjudul  “Essay On The Principle of Population”  yang terbit tahun 1798, Maltuhus berpendapat bahwa “natural law” atau hukum alamiah yang mempengaruhi atau menentukan pertumbuhan penduduk. Menurut Malthus, penduduk akan selalu bertambah lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan bahan makanan, kecuali terhambat oleh karena apa yang ia sebutkan sebagai moral restrains, seperti misalnya wabah penyakit atau malapetaka. Teori Malthus mengemukakan bahwa jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara arismatik (deret hitung).

2. Teori Kependudukan Aliran Marxist (Karl Marx dan Fried Engels)
Teori kependudukan aliran Marxist disetuskan oleh Karl Marx dan Friend Engels yang hidup sesudah Malthus. Aliran Marxist berpendapat bahwa tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja (misalnya di negara kapitalis). Marxist juga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk.

3. Teori Kependudukan  Neo-Malthusian
Teori kependudukan Neo Malthusian adalah teori kependudukan yang dicetuskan oleh para pendudukung teori Malthus tetapi secara lebih radikal. Para penganut teori Neo Malthusian ini berpendapat bahwa penduduk akan selalu bertambah lebih cepat dari pada pertambahan bahan pangan, karena itu aliran ini sangat menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan cara-cara “Preventif Check” yaitu menggunakan alat kontrasepsi.

4. Teori Kependudukan Kontemporer / Mutakhir
Teori kependudukan kontemporer di kenal juga sebagai teori Fisiologi dan sosial ekonomi.  Teori kependudukan mutakhir di anut oleh banyak ilmuwan tapi dengan dalilnya sendiri-sendiri. Misalnya:

  • John Stuart Mill, seorang filosof dan ahli ekonomi berpendapat bahwa situasi tertentu manusia mempengaruhi perilaku demografinya. Sehingga apabila produktivitas seseorang tinggi, orang itu cenderung mempunyai keluarga kecil (fertilitas rendah).
  • Arsene Dumont  mencetuskan teori kapilaritas sosial, teori ini berpendapat bahwa keinginan seseorang untuk mencapai kedudukan yang tinggi di masyarakat. Untuk dapat mencapai kedudukan yang tinggi tersebut, keluarga yang besar merupakan beban yang berat dan perintang. Konsep ini dibuat berdasarkan atas analogi bahwa cairan akan naik pada sebuah pipa kapiler.
  • Emili Durkheim mengatakan, akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk, akan timbul persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam memenangkan persaingan tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan keterampilan, dan mengambil spesialisasi tertentu.
  • Michael Thomas Sadler dan Doubleday (teori fisiologis), Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan tingkat kepadatan penduduk. Sedangkan Doubleday berpendapat bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia.
  • Herman Khan  mencetuskan teori teknologi. Ia berpendapat, manusia dan ilmu pengetahuan mampu melipatgandakan produksi pertanian. Produktivitas akan meningkat seiring dengan kemajuan teknologi.

5. Teori Transisi Kependudukan
Teori transisi kependudukan atau “theory of the demografic transition” dicetuskan oleh Warren Thomson seorang ahli demografi amerika pada tahu 1929. Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk yang di gambarkan dalam bentuk grafik yang di sebut Grafik transisi Demografi.