Sejarah Masuknya Islam ke Pulau Jawa. Islam masuk ke pulau Jawa pada era menjelang keruntuhan kerjaan Majapahit. Seperti halnya pengaruh masuknya agama Hindu-Buddha ke indonesia yang pada awalnya melalui sistem perdagangan. Begitu pula perkembangan agama islam dimulai melalui hubungan antar pedangang. Komunikasi yang terjadi dalam transaksi perdagangan telah berkembang pada kepentingan-kepentingan lainnya termasuk penyebaran pengaruh agama dan kebudayaan begitu pula halnya dengan pengaruh islam yang masuk ke Indonesia, berawal dari kegiatan perdagangan perdagangan antarnegara dan antarbenua. Berdirinya kerajaan yang bercorak islampun telah mengubah perkembangan masyarakat, kebudayaan dan pemerintahan pada saat itu.

Agama islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, Persia, dan Arab. Proses berkembangnya agama Islam sejalan dengan perdagangan dan pelayaran internasional. Pada saat itu , jalur perdagangan internasional Timur Tengah-India-Malaka-Cina merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang sangat ramai. Bersamaan dengan kesibukan perdagangan antarbangsa yang melewati Indonesia itulah, Agama Islam masuk ke Indonesia.

Masuknya pengaruh islam pertama kalinya ke Pulau Jawa masih belum bisa diketahui dengan pasti. Namun Batu Nisan Kubur Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M), barangkali bisa menjadi bukti nyata kedatangan Islam ke Jawa Timur. Namun bukan berarti sudah terjadi proses masuknya pengaruh Islam yang sangat luas di Pulau Jawa. Proses Islamisasi di Jawa Timur memang sudah terjadi semenjak kejayaan Majapahit. Hal ini bisa diketahui dari puluhan Nisan Kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik serta berita Ba-Huan pada tahun 1416 yang menceritakan orang-orang muslim yang bertempat tinggal di Gresik. Hal ini telah membuktikan bahwa dipusat kerajaan Majapahit maupun di pesisir,rbe terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan terbentuknya masyarakat muslim waktu itu.

Ketika Majapahit masih dipimpin oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada, situasi politik di daerah kekuasaan Majapahit cenderung tenang dan semua raja bawahan patuh dan mengakui kedaulatan Majapahit. Namun ketika kedua tokoh itu wafat, yaitu Gajah Mada pada tahun 1364 dan Hayam Wuruk pada tahun 1389, situasi politik berubah total. Majapahit semakin lemah dan raja-raja bawahan mulai melepaskan diri. Ini merupakan peluang bagi penyebaran agama islam. Meskipun kerajaan Hindu yang besar di Kediri sudah tumbang pada tahun 1526, namun kerajaan-kerajaan kecil di Pasuruan dan panarukan dengan pusatnya di Blambangan belum Islam. Pasuruan baru tunduk kepada islam sejak tahun 1546, ketika diserang Demak pimpinan Trenggana. Pajajaran baru jatuh ke tangan muslim pada tahun 1578-1580 karena serangan dari kerajaan Banten.