Sinopsis Jodha Akbar episode 231 by Jonathan Bay. Sidang khusus  untuk Maham masih berlanjut.  Maham berdiri di tengah ruang sidang di depan Jalal seperi layaknya pesakitan yang menanti hukuman. Jalal memberi kesempatan pada Maham untuk membela diri, tapi Maham menolak. Lalu Jalal berkata, tTersangka telah menerima kesalahannya. Jadi, Mahan anga dinyatakan sebagai penjahatnya. Kau telah mengkhianati tugasmu sebagai menteri dan mengkhianati kerajaan Mughal. Apa kamu siap menerima hukumannya?” Maham menjawab, “ya.” Semua menatap maham dengan rasa iba, Adham terlihat geram dan vlcsnap-2014-11-27-07h21m26s38kesal. Dengan suara lantang dan tegas, Jalal megatakan, “kau telah gagal memenuhi tugasmu. Kau mengizinkan seorang pria memasuki istana dengan menyamar sebagai seorang kasim. Jadi mulai sekarang, kau akan di jauhkan dari segala urusan politik dan keamanan kerajaan.” Maham tertegun, Jalal melanjutkan, “kau juga tidak akan memberikan nasehat pada raja, sekarang Atgah Khan yang akan mengurus  urusan keamanan.” Atgah berdiri dan membungkuk hormat sebagai tanda menerima perintah. Adham terlihat tidak senang. Lalu kata Jalal pada Maham, “Maham anga, semua hak dan kekuasaanmu di cabut dari dirimu.” Maham tertunduk dengan mata berkaca-kaca, yang lain menahan nafas dengan tegang. Kata Jalal lagi, “karena kamu telah banyak berkorban untuk kerajaan Mughal, jadi aku tidak akan memberikan hukuman yang berat kepadamu. Kau boleh pergi.” Maham menatap semua yang hadir dengan mata berlinang. Yang di tatap juga terlihat sedih, Ruq sampai menelan ludah. Adham tetap memasang raut wajah marah dan tidak terima. Jalal menatap Maham dengan kecewa, sesal dan duka, tapi keadilan harus di tegakkan. Sebagai Raja, dia harus menguatkan hati dan perasaanya. Maham menatap Jalal,  memberinya hormat. Lalu memberi salam pada semua yang hadir dan pergi meninggalkan ruang sidang. Para ulama terlihat saling berisik membicarakan Maham.  #sinopsisjodhaakbar.blogspot.com

Setelah Maham pergi, Jalal meminta ulama megumumkan nama petugas kerajaan yang baru untuk menggantikan Maham. Ulama berkata, “sesuai dengan perintah raja, penjaga dan pelayan setia sang raja Shamsuddin Atgah Khan di tunjuk sebagai kepala penasehat dan menteri keuangan.” Atgah menunduk dan memberi hormat. Adham berang. Hamida menganguk setuju. Jiji angga dan Gulbadan tersenyum. Sharif kaget. Ulama melanjutkan, “bersama dengan itu, karena pelayanannya yang sempurna di Jaunpur, Kadha, Kabul, Kandhar, Punjab dan negara bagian yang lain, Munim Khan di berikan gelas Khan E Khana dan di tunjuk sebagai salah satu kepala petugas kerajaan.” Lagi-lagi Sharif kaget dan berang, begitu pula Adham. Ulama memberitahu kalau kedua orang itu, Atgah dan Munim akan mengurus manajemen dari kerajaan Mughal. Namun begitu, biarpun tidak setuju dengan keputusan Jalal, Sharif dan Adham hanya diam tidak berani protes. Akhirnya sidang pun berakhir.

Di rumahnya, Adham mengumpulkan orang-orang yangs setia pada Maham dan berkata, “ibuku mendedikasikan hidupnya untuk kerajaan mughal. Dia sangat mencintai Jalal. Inikah balasan untuk hal itu? Aku tidak akan menerima itu lagi. Aku akan membalas dendam untuk pelecehan yang diterimanya. Selama ini aku diam atas perintah ibuku. Tapi sekarang, aku akan memberontak. Aku akan memberontak!” Adham berteriak sambil mengangkat tangan. Yang hadir ikutan-ikutan berteriak sambil mengangkat tangan…”Ya, kami akan memberontak!” Adham berkata kalau mereka akan mulai balas dendamnya dengan membunuh Shamsuddin Atgah, “dia telah berani menuduh ibuku.. Aku akan memenggal kepalanya dan membuktikan kalau pedangku lebih kuat daripada otak liciknya. ~adham mencabut pedangnya~ Kami akan membalaskan pelecehan ibuku!” Yang hadir, sambil mengangkat tangan berteriak, “ya..ya, kami akan membalas dendam!”

vlcsnap-2014-11-27-07h24m33s115Sinopsis Jodha Akbar episode 231. Terdengar teriakan Maham yang tiba-tiba muncul, “jangan, Adham khan! kalau sekarang kita memberontak kepada Jalal, itu akan berakibat fatal bagi kita.” Adham terlihat tidak senang, dengan larangan Maham, “ibu, bagaimana bisa kau menghentikan aku setelah apa yang terjadi? Aku menginginkan pembalasan.” Shahabuddin mendukung, “adham khan benar, ibu.” Maham menatap Shahabuddin dengan cemas lalu menatap Adham yang sedang kesal dengan lembut, “Adham, aku menghormati emosimu. Tapi ini bukan saat yang tepat. Sekarang, tidak beguna untuk mengkhawatirkan tentang apa yang telah hilang dari kita dan sebaiknya berpikir tentang apa yang bisa kita selamatkan. Cobalah untuk mengeri, Adham. Aku telah kehilangan status dan kekuasaanku. Tapi kau belum kehilangan itu. Jalal masih menganggapmu penting sama seperti sebelumnya. Kau harus menjaga status itu. Itu penting untuk masa depan kita yang lebih baik.” Shahabuddin menyela, “tapi anda belum kehilangan posisimu. Jalal belum menurunkanmu dari posisi menteri.” Maham tersenyum mendengarnya, “Shahabuddin, kau membuatku tertawa. Jalal telah merampas semua kekuasaanku. Aku setuju kalau aku masih memiliki posisiku. Aku adalah sang Perdana menteri, tapi aku tidak punya kekuasaan yang berhubungan dengan posisi ini. Aku telah memutuskan, tidak satupun dari kalian yang akan menyerang sekarang. Aku ingin berbicara secara pribadi dengan Adham Khan. Jadi, tolong tinggalkan kami!” Setelah semua orang pergi, adham bertanya pada Maham, “mengapa kau ingin menghentikan aku, ibu?” Maham menjawab, “itu karena aku peduli dengan hidupmu. Kau ingin bebas, kan? Kalau kamu tetap bebas, itu akan membantumu di masa depan. Kalau sekarang kamu mengambil satu langkah saja untuk melawan jalal, Jalal akan membunuhmu atau mengurungmu seumur hidup. Aku tak ingin itu terjadi. Kau sangat berarti untukku. Aku tidak bisa kehilangan dirimu Adham. Sekarang, aku hanya khawatir tentang keselamatan dirimu dan aku. Itu saja.” Adham bertanya, “benarkah? Lalu apa yang kau rencanakan? Jalal telah merampas semuanya darimu.” Maham menyahut, “kau harus tahu, Adham..kalau seseroang harus menciptakan kesempatan untuk dirinya sendiri. Orang bodoh adalah orang yang menyerahkan semuanya kepada takdir dan tidak mencoba mencari cara yang lain. Aku telah menciptakan kesempatan yang lain untuk diriku, Adham. kalau aku sudah melakukan apa yang aku inginkan, kita akan menjadi sangat kuat. Pada saat itu, kita akan memiliki posisi yang lebih baik.” Dengan rasa ingin tahu, Adham bertanya, “bagaimana kamu akan melakukan itu, ibu?? Maham menyahut, “sekarang aku tidak bisa memberitahumu. Tunggulah saat yang tepat. Kalau kali ini rencanaku berhasil, kau akan tahu apa yang telah aku dapatkan.” Adham terbujuk juga oleh kata-kata Maham, rasa berangnya mulai berkurang.

vlcsnap-2014-11-27-07h22m23s56Jalal sedang berlatih pedang dengan para prajurit. Satu lawan dua, jalal seorang diri melawan 2 orang prajurit. Latihan pedang itu berlangsung seru, mereka bertarung dengan sungguh-sungguh seperti layaknya berada di medan perang. Pada awalnya, Jalal diatas angin, sang prajurit kewalahan, tapi kemudian kosentrasi Jalal terpecah. Dia teringat saat bertarung pedang dengan Jodha di Amer. Dalam hati Jalal berkata, “aku tahu kau sangat marah kepadaku, ratu Jodha. Dan aku pantas mendapatkan itu.” Prajurit menyerang Jalal, dengan sekuat tenaga, jalal menangkis serangan itu. Atgah dan Munim khan yang melihat latihan itu dari luar arena, mengawasi setiap gerak-gerik Jalal. Munim khan berkata, “atgah shahab, sepertinya yang mulia sedang gundah. Apakah bijaksana untuk berbicara dengannya sekarang?” Atgah menjawab, “kita tidak punya pilihan. Kita harus menunggu hingga Yang Mulia menyelesaikan latihannya.” Di arena, Jalal masih terus bertarung, dia menyerang prajurit dan prajurit balas menyerangnya. Jalal sedang menangkis serangan pedang prajurit ketika dia ternampak pohon tulsi yang bergoyang di tiup angin. Jalal membayangkan Jodha sedang melakukan tulsi puja.  Karena kosentrasinya yang terpecah belah, Jalal menjadi  kewalahan. Beberapa kali serangan prajurit mengenai dirinya, tapi Jalal tidak menyadarinya. Melihat itu, Atgah terpaksa menghentikan latihan. Prajurit langsung berhenti menyerang Jalal. Atgah melangkah mendekat. Jalal menatapnya dengan heran dan bertanya, “mengapa kau hentikan?” Atgah membungkuk dan minta maaf, “maafkan aku, tuan. Mungkin anda tidak menyadarinya, tapi anda terluka.” Jalal kaget, dia menatap pergelangan tanganya yang memegang pedang, darah sudah berceceran. Atgah memarahi prajurit yang menjadi lawan jalal, “ini hanya sebuah latihan, bukan sebuah perang. Lain kali, berhati-hatilah.” Kedua prajurit itu menundukkan kepala dengan rasa bersalah. Atgah menyuruh mereka pergi.

Sinopsis Jodha Akbar episode 231. Atgah kemudian dengan tangannya sendiri, mengobati luka Jalal. Jalal berkata, “itu bukan kesalahan mereka, Atgah Shahab. Tapi salahku sendiri yang tidak kosentrasi. Luka ini tak ada apa-apanya. Luka sebenarnya aku dapatkan ketika Ratu Jodha menolak untuk ikut aku kembali ke Agra. Bagaimanapun juga, aku senang aku terluka. Setidaknya ini menginggatkan aku akan ratu Jodha. Kalau dia ada di sini, dia akan merawat lukaku.” Lalu Jalal seperti tersadar dengan perasaanya, dia kemudian bertanya ada keperluan apa atgah menemuinya. Atga mengatakan, “aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Sekarang anda sedang tidak tenang. Tapi beberapa hal sangat memerlukan perhatian anda.” Jalal meminta Atgah mengatakan apa masalahnya. Atgah mengingatkan Jalal kalau dia pernah meminta dirinya untuk menyelidiki masalah keuangan dan pajak, “ada perbedaan di dalam akun keuangan. Ada banyak kesalahan di dalam jumlah yang di kumpulkan dan di depositokan. Kita juga menerima banyak komplain tentang masalah perdangangan yang harus segera di tangani. ” Jalal bertanya apa saran atgah. Atgah mengatakan kalau mereka membutuhkan seseorang yang mampu mengurus masalah ini. Seseorang yang setia, bisa di percaya dan berpengalaman. Atgah menyarankan Mirza Hakim untuk menjabat posisi itu. Jalal menolak, “tidak, Atgah Khan. Sekarang Mirza akan mengurus Kabul.” Atga bertanya, “kalau begitu siapa yang akan kita tunjuk?” Jalal teringat Todar Mal, “aku punya seseorang yang aku pikir bisa mengurus masalah ini. Dia  loyal, dan layak untuk dipercaya. Dia juga berpengalaman, Atgah Shahab.” Atgah bertanya siapakah orang yang di maksud Jalal. Jalal menjawab, “Todar Mal.” Atgah mengatakan kalau dia ingat Todar Mal, “tidak di ragukan, dia loyal dan berpengalaman. Tapi maaf, yang mulia, karena mengatakan hal ini. Tapi dia adalah pelayan setia dari Sher Shah Suri.” Jalal berkata, “tapi Sher Shah Suri sudah meninggal. Todar Mal adalah seorang pria berprinsip. Dia tidak akan pernah berkhianat. Tidak peduli siapapun majikannya. Kau ingat bagaimana dia membantu ayahku, mendiang raja Humayun. Dia juga telah membantuku sebanyak 2 kali, dan aku telah melihat kalau dia sangat efisien di dalam mengurus keuangan. Todar Mal akan berguna bagi kerajaan Mughal. Kirimkan pesan kepadanya untuk datang ke agra secepat mungkin. Aku ingin memasukan dia sebagai penjabat kerajaan.” Atgah berdiri dan membungkuk sambil berkata, “sesuai perintahmu, yang mulia.” Lalu dia dan Munim meninggalkan Jalal.

vlcsnap-2014-11-27-07h23m01s214Jalal menghampiri pohon Tulsi yang merangas di tinggal Jodha. Jalal berdiri di depan pohon itu, memberi sembah dan berkata, “daun kemanginya layu dalam ketidak hadiranmu, Ratu jodha. Kalau bukan untuk diriku, kembalilah untuk mereka.” Jalal menatap sekeliling dia melihat para pelayan berdiri. Jalal menegur mereka, “pegilah mengambil air, apa kalian tidak bisa lihat kalau daun kemanginya layu?” Seorang pelayan pergi, tak lama kemudian Moti datang sambil membawa air dalam sebuah guci tembaga. Jalal menerima air itu, melepas sandalnya dan mendekati pohon tulsi. Dengan hikmat, Jalal menyiram tanaman tulsi. Setelah selesai menyirankan air, Jalal melipat tangan didada dan mengucapkan Gayatri Matra yang sering di ucapkan Jodha saat melakukan Tulsi Puja. Ucap Jalal, “Om Bhur Bhuva Swaha, tat savitur varinyam…” Jalal tidak hapal selanjutnya. lalu terdengar suara Rahim meneruskan, “… bhargo devas yadhimahi, dhiyo yo naha prachodayat.” Jalal menoleh kearah Rahim, yang bediri tak jauh darinya. Rahim juga ikut-ikutan menyembah kemangi dengan mata terpejam,  dan membaca gayatri Matra yang kemudian di tirukan Jalal. Moti yang melihat apa yang di lakukan Jalal dan Rahim tersenyum haru.

vlcsnap-2014-11-27-07h27m23s244Setelah selesai berdoa, Jalal tersenyum dan berjongkok di depan rahim, “bagus Khan E Khana, Jadi, kau tahu doa ini.” Rahim menjawab, “ya. Choti Ami jaan mengajarkan mantra itu padaku.” Jalal tertunduk sedih. Lalu dia bangkit, mengendong tubuh rahim sambil bertanya, “apa lagi yang choti ami jaan ajarkan padamu?” Rahim menyahut, “sangat banyak!” Jalal menbawa rahim duduk di sofa, dia sendiri duduk di sebelahnya. Jalal kemudian bertanya, “katakan padaku, Khan E khana, apa yang di ajarkan Choti Ami Jaan padamu?” Rahim mengatakan kalau Jodha mengajarinya ramayana, Mahabharata, Kisah Arjun, Kisah Bheem  atau kisah karna dan banyak lagi. Jalal bertanya, “siapa mereka?” Rahim dengan heran balik bertanya, “kau tidak tahu siapa mereka?” jalal meggeleng. Rahim berkata, “kau sudah tua, tapi tidak tahu. Mereka adalah karakter dari Mahabharata, cerita Pandawa dan Kurawa. Aku mengajarkan ayat dari Al Qur’an pada Choti Ami, sebagai gantinya dia menceritakan kisah-kisah ini padaku. Oh ya, satu lagi, dia juga mengajarkan Gita kepadaku.” jalal dengan rasa ingin tahu bertanya, “apa lagi yang diajarkan choti ami jaan kepadamu?” Rahim mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa indi murni yang di ajarkan Joda. Jalal memuji rahim tapi tidak mengerti maksudnya, “Merdu sekali, Rahim. Tapi apa artinya?” Rahim menjawab, “kebaikan akan di balas dengan kebaikan. Artinya, lakukan saja pekerjaanmu dan jangan khawatir. Karena kau akan mendapat balasan atau hukuman dari setiap perbuatan itu. Apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai.” Jalal tersenyum dia memuji rahim, “selamat Khan e Khana, kau lebih berpengalaman daripada bocah seusiamu.” Rahim dengan polos berkata, “Yang Mulia, ketika choti ami kembali, aku akan minta padanya untuk menceritakan ini kepadamu.” Jalal dengan penuh harap menyahut, “amin. Aku harap tuhan akan mendengarkan doamu.” Rahim lalu bertanya, “sekarang, bolekan aku bermain?” Jalal mengangguk. Rahim menberi salam lalu berlari pergi. Jalal memikirkan ucapan Rahim dan berkata, “kamu benar, ratu Jodha. Aku akan mendapatkan apa yang layak aku dapatkan. Aku melakukan kesalahan dengan meragukanmu, karena itu aku di hukum.”

Sinopsis Jodha Akbar episode 231. Maham berdiri mematung di kamarnya ketika Jiji anga datang menemuinya. Maham tidak menyadari kedatangan Jiji. Jiji menatap Maham dan memberinya salam. Maham seperti tersadar, dia segera membalas salam jiji anga. Maham bertanya apa yang membawa jiji anga datang ke kamarnya, “apa kau datang untuk melihat apa yang aku rasakan setelah di kalahkan? Atau kamu datang kesini untuk melihat kalau sekarang statusku ada di bawahmu?” Jiji anga berkata, “aku menyayangkan caramu berpikir, Maham anga. Semua ini terjadi karena cara berpikirmu.” Maham dengan cepat menyela, “tidak, Jiji Anga. Tidak ada yang salah dengan cara berpikirku. Semua ini adalah salah ratu jodha. Ratu Jodha telah merusak hubunganku dengan Jalal. Aku adalah pengasuh Jalal. Aku yang membesarkan dia. Aku melindungi dia dari musuh-musuhnya. Lalu ratu Jodha masuk kedalam kehidupannya. Beraninya dia merampas hak ku dari diriku. Dia ingin merampas hak ku! Mengapa? Ini bukan salahku, melainkan salah ratu Jodha.” Jiji anga mencela Maham dengan bekata, “kamu selalu ingin menjadi lebih hebat dari orang lain. Itu menghancurkan cara bepikirmu dan kau menghancurkan martabatmu. Pertama , kau ingin mendapatkan sesuatu, dan kamupun mendapatkannya. Lalu kau ingin menjadi orang yang yang paling penting. Dan sekarang, kau kehilangan semuanya, Maham anga.” Maham tidak terima, dia berkata, “aku tidak kehilangan segalanya karena cara berpikirku…..tapi karena suamimu, Atgah.” Maham mulai emosi. Dia mengatakan kalau dirinya kehilangan posisinya karena Atgah khan. Kalau Atgah tidak memberi tahu Jalal tentang Sujamal dan Dilawar Maham tidak akan kehilangan posisinya. Maham menuduh Atgah yang merebut posisinya. #www.sinopsisjodhaakbar.com

vlcsnap-2014-11-27-07h27m30s93Jiji anga membalas maham dengan mengatakan kalau Atgah, sumainya tidak berbuat kesalahan apa-apa. Tapi Maham sendiri yang telah mengkhianati Jalal.  “kamu masih memiliki tangung jawab yang lain atas hukuman yang kamu dapatkan karena kejahatanmu sendiri. Suamiku hanya menjalankan tugasnya. Dia setia kepada kerajaan Mughal. Dan kamu? Kamu mengkhianati kerajaan…..” Maham berteriak marah, “cukup! Itu sudah cukup! Mengapa kau datang ke sini, Jiji anga? Kau ingin menunjukan rasa simpati kan? Beginikah caramu melakukannya? Apa kau datang ke sini untuk mengejek aku? Kalau begitu izinkan aku mengatakan sesuatu padamu. Maham anga tidak membutuhkan simpati, belas kasihan, atau penghiburan dari siapapun. Khususnya darimu. Jadi, pergilah dari sini.” Jiji anga dengan polos tertawa, “bagaimana bisa ada orang yang bersimpati kepadamu? Aku datang untuk bilang kepadamu, bahwa ketika seorang pengasuh menyusui seorang anak. Dia mendapatkan status sebagai ibu dari anak itu. Ini belum terlambat, Maham anga, penuhilah tugasmu sebagai seorang ibu. Kalau Ratu Jodha memaafkanmu, kamu masih bisa mendapatkan semuanya kembali. Hanya sekali saja, datanglah pada ratu Jodha dan …” Maham menoleh kearah Jiji anga dengan cepat dan memotong kata-katanya, “apa? Hanya sekali saja Maham anga medatangi Ratu Jodha? Dan melakukan apa, jiji anga? Apa kamu ingin mengatakan kalau aku harus minta maaf padanya? Kamu ingin aku berlutut di hadapannya? Itukan yang ingin kau katakan? Lebih baik aku menjadi seorang pengemis, dari pada aku meminta maaf pada Ratu Jodha. Aku tidak akan pernah meminta maaf kepadanya. Labih baik aku mati. Aku akan membunuh diriku sendiri, tapi aku tidak akan pernah menerima seorang Rajput sebagai ratu” Lalu dengan menunjuk Jiji anga, maham berkata lagi, “..aku merasa malu karena dirimu! Bagaimana bisa kamu meminta seorang Mughal untuk meminta maaf kepada seorang wanita Rajput. Aku tidak pernah membutuhkan saranmu. Jadi, pergilah dari sini!” Jiji anga menyempatkan diri bekata, “akan datang suatu hari, di mana sikap keras kepala dan harga dirimu akan menghancurkan dirimu, Maham anga..!” Maham dengan lantang berteriak, “Pergi dari diri!” jiji anga menatap Maham dengan putus asa, sedangkan maham menatapnya dengan terbelalak marah. Akhirnya tanpa berkata apa-apa lagi, Jiji angga pergi dari hadapan Maham.

Setelah kepergian Jiji, sifat asli Maham muncul. Dengan penuh kemurkaan dia berkata, “aku masih belum menyerah, Jalal. Aku belum kehilangan segalanya. Aku masih memiliki lebih banyak pilihan!” …Sinopsis Jodha Akbar episode 232

Incoming search terms: